Rabu, 29 Juni 2016

Renungan untuk para Pendengki

Dia berhasil, kita jengkel.
Dia bahagia, kita jengkel.
Dia diberi nilai lebih baik, kita jengkel.
Dia lulus duluan, kita jengkel.
Dia punya yang terbaru, kita jengkel.
Dia berbuat baik pada orang lain, kita jengkel.…
Dia mati, mungkinkah saat itu baru kita bisa bahagia?

Bangun rumah, tapi ujung-ujungnya menghancurkan rumah itu sendiri. Susah payah mencari uang, tapi membakarnya hingga menjadi abu. Nah, itulah perumpamaan dengki.…

"Jauhilah dirimu dari dengki, karena dengki dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar." (HR. Abu Daud).…

Sebanyak apapun amal kebaikan kita, jika kita belum ridho terhadap pencapaian orang lain, belum ridho terhadap impian orang lain, maka terkikislah amal kebaikan kita. Sia-sia…

"Dengki itu ibarat engkau minum racun, namun berharap orang lain yang mati." (Ali bin Abu Thalib).…

Kalau kita tidak ridho terhadap pencapaian orang lain, berarti kita tidak ridho dengan Yang Maha Memberikan pencapaian tersebut kepadanya. Allah saja ridho, mengapa kita tidak ridho? Kalau kita dengki, kalau kita tidak ridho, berarti kita merasa lebih hebat dibandingkan Allah. .…

"Ya Allah, Engkaulah yang Maha Meniupkan ketenangan ke dalam hati. Jangan biarkan hati kami selalu bergelombang karena kedengkian di hati kami. Redakanlah, ya Allah. Sesungguhnya kami ingin hati ini tenang, maka buatlah kami ikhlas terhadap semua ketetapan-Mu.…

Semoga renungan ini bermanfaat..

Copy dari Teladan Rasul.

Manusia akan dibangkitkan dari KEMATIAN

“Dan mereka pernah berkata (bertanya): ‘Apakah jika kita telah mati dan menjadi debu dan tulang belulang kita itu apakah akan dibangitkan kembali? Dan apakah bapak-bapak (nenek moyang) kita yang dahulu juga akan dibangkitkan?’ Jawabnya: ‘Sesugguhnya mereka yang dahulu dan yang belakangan, akan dikumpulkan pada waktu tertentu pada hari yang ditentukan,’” (Q.S. Al-Waqi’ah: 47: 50).

DALAM firman Allah di atas menjelaskan bahwa kita akan dibangkitkan bersama orang terdahulu maupun sebelum kita di waktu yang Allah SWT tentukan yaitu setelah hari kiamat kubro tiba.

Semua manusia dari dalam kuburnya dihidupkan kembali (dibangkitkan) lalu digiring menuju padang Mahsyar. Setelah itu, manusia akan menghadapi pengadilan dimana pengadilan itu terdapat sebaik-baiknya hakim untuk menyelesaikan urusan-usuran yang tidak selesai di dunia serta mempertanggungjawabkannya.

Baru setelah itu di putusakan masuk surga atau neraka, tergantung pada ke arah mana berat timbangan kita menuju, arah kanan atau kirikah?

Pada detik-detik terakhir hari perhitungan, setiap hamba akan diberi kitab (amal)nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia. Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah Subhana wa Ta’ala.

Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, seperti pada firman Allah berikut ini: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak: ‘Celakalah aku’, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka),”(QS. Al Insyiqaq:8-12) .

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: ‘Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku’. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala,” (QS. Al Haqqah:25 31).